Ketika Mudah Menjadi Susah, Susah Menjadi Mudah

9:24 AM

Benar. Judul diatas memiliki dual makna. Apapun makna itu, akan terlihat seperti susah namun tidak pula mudah. Sungguh itu hal yang normal, ketika kita mengeluh akan kesulitan yang terjadi sepanjang hidup kita. Manusia toh memiliki sistem dalam fungsi tubuh yang bekerja bersama otak. Ketika tanganmu tengah mencoba membuka tutup botol dan mulai terasa sakit, syaraf tangan akan secara langsung memberi isyarat kepada otak, dimana kemudian otak akan mengirimkan sinyal kepada syaraf mulut. Alhasil yang terlontar adalah "ah sial. Susah bener buka botol aja." atau umpatan kasar "anjing, buka botol aja ga kuat. Lemah."

Hal yang sebetulnya mudah, dapat terasa sukar apabila kita sudah membatin sedari awal bahwa itu tidak akan mudah. Sugesti kita telah sedikit menanamkan rasa pesimis, walau kadang untuk beberapa orang dapat menumpuknya dengan rasa optimis yang jauh lebih besar. Beneran deh, pernah kan merasa pesimis akan sesuatu? Reaksi yang diberikan otak pun beragam ketika syaraf tubuh yang lain mengalami kesulitan. Kadang ada yang tidak kompak, seperti misal kita tengah membersihkan sesuatu yang sepertinya sulit dihilangkan. Syaraf tangan telah hampir menyerah, ketika otak kita masih berpikir "masa sih gabisa ilang?" Hingga kemudian mencoba terus sampai puas.


Nah, kemudian bagaimana yang susah dapat menjadi mudah? Ini yang masih nyangkut di otak. Banyak spekulasi yang kemudian menerjemahkan kejadian-kejadian beberapa orang, dimana suatu hal yang bagi orang lain susah, namun dapat dilakukan dengan mudah. Contoh paling dekat. Aku punya teman kuliah yang cukup dekat. Kami, teman-temannya, mengenal dia sebagai sosok yang antusias. Terutama dalam mencari sesuatu yang baru. Semacam Dora The Explorer, dia selalu bersemangat apabila urusan berpetualang atau mencoba hal baru. Kita tahu dia gadis yang cerdas, namun dia cuek. Karena cuek, dia dapat melakukan apa-apa sendiri. Independen. Baru-baru ini, kabar gembira datang darinya. Luar biasa anak ini. Akhir tahun ini dia akan berangkat ke Yunani dalam rangka exchange programme yang diadakan oleh Erasmus Mundus. Benar-benar, dia selalu memberi kejutan. Sering menghilang, tahunya dia iseng mendaftar dan lolos. Cerdas dan beruntung benar. Tidak sekali ini saja, dulu dia pernah berangkat ke Thailand untuk sebuah kongres selama 10 hari. Kali ini dia akan 10 bulan di Yunani.


Jadi, setelah aku melihat-lihat kembali program yang ditawarkan Erasmus Mundus itu, memang tidak mudah syarat dan ketentuannya. Bukan berat di ongkos, malah kita dibebaskan dari biaya dan juga mendapat uang beasiswa yang jumlahnya sangat lumayan, namun berat di syarat akademik dan essay. Tidak semua orang dapat menulis essai dalam bahasa lain selain Indonesia. Apalagi tema essai yang diangkat menyangkut tentang masalah sosial dan budaya negara lain, tanpa skill yang bagus, mungkin kita sudah minder duluan melihat salah satu syarat tersebut. Namun apa? Temanku menjadikan itu terlihat mudah. Aku lupa mendeskripsikan temanku ini. Dia jauh dari individu yang 'terlihat pintar' secara penampilan. Suka memakai kaos dan celana training, sandal jepit, tidak rapi, tidak peduli penampilan, dan tidak suka berlama-lama di perpustakaan atau di kampus sendiri. Lalu bagaimana bisa? Kalau kata dia sih, semua tergantung niat. Ketika kamu sudah berniat untuk menaklukkan itu, rasa optimismu dapat memacu seluruh syaraf tubuh untuk bekerja dua kali lipat lebih keras dalam mencapai tujuan. Tapi perlu di ingat, selalu iringi optimismu dengan keikhlasan. Urusan berhasil atau gagal itu belakangan, coba untuk mempertahankan niat dan usahamu. Tetap saja itu jerih payahmu gagal atau tidaknya. Mudah untuk berkata memang, kadang susah untuk melakoninya. Lalu, mengapa tidak dibuat mudah semua saja?


Paling mudah menjadikan yang mudah menjadi susah, karena rasa pesimis yang melampaui optimis. Namun, paling berharga dan nikmat ketika kamu dapat menjadikan yang susah menjadi mudah. Seiring itu semua berjalan, selalu ada logika yang berperan.


Ah sudahlah. Sepertinya aku semakin melantur malam ini. Keletihan hari ini, terkuras emosi dan jiwa, rasanya seimbang dengan keinginanku menulis. Setidaknya menulis sesuatu. Setidaknya kalian masih menganggapku ada dan hidup.


Mudahkanlah dirimu untuk membaca dan menulis. Jangan dibawa susah. Kalau kata seseorang "Hidupku sudah terlalu dangdut". Penuh lika-liku. 

:)

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe